Kontroversi Konten Korut pada Film dan Serial Korsel

Konten Korea Utara sebagai konten dan bagian dari drama Korea Selatan nampaknya sedang mencuri perhatian public. Entah apa yang tengah terjadi sekarang ini karena nampaknya kedua negara sedang tidak dalam keadaan saling ‘mencintai’ dalam hubungan diplomatic dan militer. Namun deretan film dan serial Korea Selatan yang memuat Korea Utara sebagai konten itu sering sekali menuai kontroversi, termasuk juga kontroversi di film Korea Selatan terbaru berjudul Ashfall yang ditayangkan di bioskop Indonesia, hari ini Rabu (8/1).

Kontroversi Crash Landing on You

Film bencana dengan gaya Hollywood ini sebetulnya menceritakan upaya dua perwira militer Korea Selatan dan juga Korea Utara untuk mencegah letusan besar-besaran Gunung Paektu yang mana terletak di ujung utara Semenanjung Korea togel sidney. Film ini sendiri menggambarkan tindakan heroic agen Korea Utara, Joon-pyeong yang diperankan oleh Lee Byung-hun, yang mana lebih unggul ketimbang rekannya dari Korea Selatanm, In-chang yang diperankan oleh Jung-woo, ketika mereka menjalankan misinya.

Beberapa pihak pun akhirnya mengkritik Ashfall karena film ini dianggap  terlalu memuliakan Korea Utara. Padahal Korea Utara dianggap negara yang sering sekali berseteru sejak berpisah dengan Korea Selatan setelah adanya perang Korea 1950-1953. Kritikan tersebut makin derasa saja karena Ashfall ditayangkan berdekatan dengan serial komedi romantic yang berjudul Crash Landing on You.

Dalam kedua tayangan ini, Korea Utara digambarkan sebagai negara yang tanpa celah dan normal serta ideal untuk ditempati, berbeda dengan naris Korsel yang ada sejauh ini. Serial Crash Landing on You sendiri mengangkat kisah pewaris bisnis mode ternama yang berasal dari Korea Selatan yang mana mengalami kecelakaan ketika melakukan olahraga Paralayang. Ia terjatuh di daratan Korea Utara. Kemudian ia ditolong seseorang dan ternyata ia adalah tentara Korea Utara.

Berkat kemampuan adu peran dua bintang terkenal Korsel, Hyun Bin d,an Son Ye-jin, kemudian drama ini mendapatkan sambutan yang sangat hangat khususnya dari penggemar perempuan. Sehingga ratingnya saja bisa mencapai 9.2 persen untuk episode paling anyarnya.

Beberapa pihak menganggap bahwa kisah percintaan atau pun persahatan antara kedua negara ini tidak lah pantas dipertontonkan di tengah konflik dan kebuntuan perundingan nuklir yang terjadi antara AS dan Korut yang mana kemudian berpengaruh pada Korea Selatan/

Pendapatan sejumlah kelompok yang mana mengaku tidak nyaman karena melihat Korut digambarkan sebagai tempat yang damai dan penuh dengan kebaikan warganya ini, dianggap jauh dari fakta negara yang amat sangat tertutup itu.

Menanggapi hal tersebut, kemudian produser serial ini mengaku sudah sangat berhati-hati. ia, Lee Jung-hyo, mengklaim tak berniat untuk mengidealkan Korea Utara dan juga rakyatnya. “Korea Utara ada di dunia nyata, namun dalam drama, itu hanya lah ruang untuk karakter. Misalnya saja keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi yang mana digambarkan sebagai tempat fiksi,’ ungkap Lee Jung-hyo.

Korsel Terus Produksi Film Berkonten Korut

Di tengah kontroversi itu, malahan produksi serangkaian film dengan konten Korut malah terus dilanjutkan. Setelah Ashfall, aada lagi Summit: Steel Rain. Film yang disutradarai oleh Yang Woo-suk ini mengatakan bahwa ceritanya tentang pemimpin Amerika Serikat, Korea Utara dan Korea Selatan yang mana diculik di pertemuan tripartut. Tak Cuma itu, ada juga Escape yang digarap oleh Ryoo Seung-wan yang mana didasarkan pada kisah nyata pelarian diplomat-diplomat Korsel dan Korut dari perang saudara Somalia di tahun 1990an.